Minggu, 12 Desember 2010

Pray for Love

Kesekian kalinya kupintakan baiknya harap bagi jiwaku dalam genggamanMu. Ini jemari terentang menyuguh isi hati dalam hening sukma yang mengembara dalam lautan keagunganMu. Bilakah Kau, perkenankan aku miliki anugrah cinta seorang kekasih. Bila teguh diriku juga dirinya nyata keikhlasan akan arti merindu segala kuasaMu. Bila dirinya ialah muara bagi sepiku, sehingga hadirnya ialah penawar bagi kehampaan rasa yang kemarin pernah penjarakanku dalam waktu, sehingga dirinya bagiku adalah keteduhan bagi letih jalan terjal mendaki. Tuhanku, mohon Kau berkenan segerakan tibanya seorang kekasih. Adalah dia yang anggun pada kesantunan pekerti, membaca diriku dengan kesederhanaan. Adalah dia yang dapat menempatkan kemuliaannya pada perkara kebaikan, adalah dia yang jujur mencintaiku, adalah dia yang bisa mengenggam dunia dalam tangannya dan bukan dalam hatinya.

Tuhanku yang menyayangiku, tunjukan padaku arah melangkah agar kuraih kekasihku dengan segala kemurahanMu, dengan segala restuMu. Sebab sejauh apapun kukejar dirinya, tanpa izinMu tiada pernah bisa kuasaku dapati cintanya. Hanya dengan kehendakMu asmara ini kan bertemu. Tuhanku, dalam ramainya hari diputaran bumi, lepaskan segala keraguan yang hantui ketulusanku, jangan Kau biarkan aku terpedaya pada perihal kecantikan semata. Jadikan alasanku mencintainya karena keberadaan cintaMu dihatinya, jadikan alasanku menyayanginya karena jerih upayanya untuk dekat mengenalMu, mengenal karuniaMu.

Tuhanku yang tahu segala isi hati, musim demi musim berganti, perjalanannya mengisyaratkan bilamana senjaku tiba. Banyak sudah kuutarakan rasa, bila Kau beri segala inginku, maka amanah bagiku untuk menjaganya dan iringi selalu dalam naunganMu. Namun jika belum jua pintaku tiba, tautkan kesabaran dan keikhlasan, sehingga aku bisa memantaskan diri menerima pemberianMu pada saatnya nanti. Tuhanku hanya padaMu kutujukan segala cinta dan harapan, tanpa kasihsayangMu aku bukan apa-apa lagi.

(CM/251109)

In Her Silent

Aku memang berharap kau akan membaca tautan kata-kata ini. Adalah kau wanita yang kutemui dan kukagumi ayu parasmu. Begitu tak pernah segan untuk kumemandang, bahkan mungkin kau juga tahu saat kita saling mencuri pandang, hingga tak kita sadari mata kita saling berbicara. Inginku berbagi segenap perasaan ini, temui asmaraku dalam hatimu. Inginku mendengar kau bicara dekat, senyumanmu, tawamu. Tapi mungkin kesalahanku telah berharap banyak padamu, akan kehangatan kasih yang dapat kumiliki. Sehingga aku bertanya sendiri, salah apa yang kuperbuat hingga kau acuhkan diriku. Lihatlah aku lebih dalam dan jangan terburu-buru samakan aku dengan sebagian atau kebanyakan lainnya. Apalagi menyerap sebentuk prasangka lingkungan yang kadang tidak tepat memberitakan perihal diriku. Sebab kita memang tak pernah bisa memaksa setiap orang beranggapan baik, meski sudah berhati-hati dalam berucap dan bertingkah laku. Lihatlah aku lebih dalam. Aku ingin menuliskan betapa berharganya diriku ini agar menjadi bukti bahwa aku tidak pantas kau acuhkan.

Aku berharap kau yang cantik masih membaca tautan kata-kataku ini. Kau yang mungkin belum tahu betapa perjuanganku menghindari cara-cara buruk dalam pekerjaanku, sampai aku merasakan keterasingan, sampai aku merasakan disisihkan, tapi aku tahu Tuhan justru mengasihiku dengan menempa kesabaranku ini. Kau yang berparas ayu yang mungkin selintas menilai aku kecil. Benar aku memang orang kecil, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku membesarkan jiwaku dengan bersahabat pada kebaikan. Meski dimasanya hal baik itu terasa tidak lazim dalam lingkungan yang sedikit demi sedikit mulai meninggalkannya. Aku akan berdiri menyuarakan hal baik itu, meski hanya sekedar berbisik, sebab itu adalah bentuk pengabdianku pada Tuhan. Lihatlah diriku lebih dalam, aku tidak senang melihat ketidakadilan, menyepelekan orang, berlaku sewenang-wenang dengan orang kecil. Aku tidak suka dengan orang yang menahan hak orang lain. Sehingga orang merasakan penderitaan dan kesedihan. Aku memang orang kecil sehingga aku turut merasakan, sehingga semampu aku bisa membantu, bisa menyuarakan. Duhai cantik yang masih saja membaca tautan kata-kataku ini dan kau mulai berpikir bahwa aku adalah pribadi yang kaku dan terlalu serius. Sebagian adalah benar, sebab aku dibesarkan bukan dalam kemewahan, maka aku dituntut berjuang keras meraih cita-citaku, maka aku menatah diriku sendiri selalu belajar akan luasnya arti anugerah kehidupan ini. Ketahuilah bahwa aku pun senang tertawa, bergurau dengan teman, bercengkrama dengan kesederhanaan banyak orang, menikmati canda dan senyuman sanak kerabat, bergembira melihat anak-anak kecil yang riang bermain, juga bangga melihat pelajar bergegas menuju sekolahnya.

Duhai adinda manis yang mungkin meragukan perasaanku dan aku masih saja mengingatmu, menyebut namamu dalam doaku. Lihatlah aku lebih dalam, hingga kau berpikir kembali untuk mengacuhkan aku, hingga kau mulai bisa mengartikan tatapanmu padaku yang kadang kau sembunyikan dari jauh. Aku tak bisa memaksakan nyata asmara milikku untuk kau miliki bagimu. Setidaknya kau bisa mengerti, bahwa aku tidak sebagaimana prasangka, tidak sebagaimana yang kau sangka, hingga kau tak lagi mengacuhkan aku. Inilah perasaanku padamu, kuharap kau pun jujur dengan perasaanmu.

A Learner

Ku saksikan perjalanan dalam pandangan mata dan kusisipkan di bilik rongga jiwa akan segala apa yang kubaca di wajah dunia. Ku pautkan tekad bahwa aku ingin menjadi sebaik pribadi demi damai hati sebagaimana yang Tuhan janjikan. Ku mohonkan ampunan padaNya sebab tiada henti melimpahkan karunia yang seringkali tiada pernah ku peduli, bahkan saat ku tahu bahwa setiap uji ialah bentuk kasihsayangNya, supaya aku kembali pada jalanNya, supaya aku lebih siap menjalani kejamnya hidup, masih saja aku menggerutu dan lancang menuntut perhitungan. Padahal tak pernah mampu ku hitung segala detak jantung yang telah memompa darahku mengalir ke seluruh tubuh ini. Padahal tak pernah bisa ku ganti setiap hisapan udara yang masuk ke dalam paru-paruku.

Aku sekedar pembelajar pada sekolah hidupNya. Aku belajar kemuliaan yang dari keikhlasan mengikuti jalan tuntunanNya. Jalan kebaikan yang kadang membuatku letih dan tertatih. Jalan sepi penuh api dan duri dan sepertinya aku hanya berjalan sendiri. Saat keserakahan merayuku dan aku bertahan untuk tidak mengambil apa yang bukan milikku. Saat kejengkelan menghantuiku dan aku berusaha untuk bisa memaafkan. Saat kecewaku memuncak dan aku harus bisa meredam amarahku. Saat aku tak dihargai sebagai pribadi dan aku berusaha tersenyum dalam kekesalanku. Saat aku bertanya pada Tuhan, adakah salah jalan bagi kaki-kaki kecilku yang seakan terengah-engah menempuh ini semua. Dia pun hadirkan tanya tersirat padaku diantara gugusan bintang dan cahaya matahari yang masih terbit dari timur. Diantara ketekunan orang yang mendorong gerobak lantas menunggu pembeli seharian di bawah teriknya siang. Diantara kesabaran orang yang memanggul dagangan masih mencari rezeki di tengah malam. Atau seorang ibu yang pagi-pagi buta berangkat ke pasar untuk berjualan demi menafkahi anak-anaknya. Aku tak bisa menjawabnya.

Masih begitu banyak hal yang tidak aku ketahui. Pada tuntunanNya-lah setiap jalan harus bisa kulalui meski mendaki, terjal, dan penuh aral. Sebab setiap kesulitan, denganNya selalu disertai segala kemudahan. Sebab setiap ujian, denganNya selalu disertai ilmu dan keutamaan. Sebab setiap keluhanku, hanya padaNya ku berharap. Sebab dariNya aku, padaNya pula segala kukembali.

(CM/190909)

A Listener

Aku mengerti nyanyi hembus angin yang iramanya menerpa tangkai bambu dan menyentuh bahu dahan hingga embun sahaja itu menyapa tanah basah di pagi hari. Aku mengerti senandung sayap-sayap kenari yang genit menari di bawah kanopi daun saat lembut matahari menyentuh memberi peluk kehangatannya. Aku mengerti untaian tembang sungai kecil yang arusnya terbelah di batu lantas turun menggenangi dataran menyorong-nyorongkan bunga warna kecil seperti hendak mengajaknya bermain. Aku mengerti lirih melodi bintang malam yang teratur berkerlipan bersahutan satu dengan lainnya, satu dengan ratusan, satu dengan ribuan, mungkin lebih dari itu. Aku coba membaca setiap rangkaian nada-nada hati. Namun semakin kulelap menerjemahkan, semakin sulit kupahami. Aku meninggikan lagu keinginan diri sampai batas langit, terus sampai lantainya, menuju tirai-tirai tipisnya.

Waktu pun turun mendendangkan lagu keinginanku dengan lirih. Hingga telingaku meraba-raba dalam ruang akan melodi apa yang terdengarkan. Melodi yang sulit kupahami dan kucoba mendendangkannya kembali. Ini bukan lagu yang kuingin, ataukah hasrat keangkuhanku yang telah menutupi terang telingaku. Aku seperti pendengar yang dungu, seperti pemerhati yang tak peduli, seperti pemenang yang jadi pecundang. Tak ada yang salah dengan langit, hanya telinga dan ruang hatiku yang belum bisa menerjemahkan keindahan lagu-lagu itu. Terlalu banyak keangkuhan melemahkan diriku, menutupi pori-pori kepekaanku akan rasa kesyukuran. Aku malu dengan keinginanku sendiri, aku malu dengan alam yang selalu bisa menerjemahkan nada-nada kasih itu. Aku malu belum mampu mendendangkan nada-nada sederhana dalam jiwa, yang semestinya bisa meredam nada-nada fatamorgana.

(CM/240809)